السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... SALAM SEJAHTERA BAGI ANTUM SEMUA, TERIMA KASIH ANTUM TELAH MENGUNJUGI ARTIKEL KAMI. SEMOGA ARTIKEL INI BERMANFAAT BAGI ANTUM SEMUA...

SYEIKH ABUBAKAR BIN SALIM


Nama lengkap beliau adalah Syeikh Abubakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman As-Seggaf, Syeikh Abubakar bin Salim dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Kota kelahiran beliau adalah kota dimana orang-orang saleh yang terkenal, para aulia Allah, pernah dilahirkan dan tinggal disana. Pada masa kecilnya, Syeikh Abubakar bin Salim dididik oleh para ulama terkemuka pada saat ini. Diantara gurunya adalah As-Syeikh Al-Kabir Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban, Al-Imam Al-Wali Al-‘Arif billah Sayyidina Syihabuddin All-Akbar Ahmad bin Abdurrahman, As-Syeikh Al-Qadhi As-Shalih Abdullah bin Muhammad bin Sahl Baqusyair, As-Syeikh Al-Faqih As-Sufi Umar bin Abdullah Bamakramah.
Syeikh Abubakar bin Salim meninggal pada tahun 992 H di kota ‘Inat, Hadramaut. Beliau memiliki 4 orang puteri, yaitu: Fatimah, Aisyah, Alawiyah dan Thalhah. Dan 13 anak laki-laki yang masing-masing bernama Abdurrahman, Jakfar, Abdullah Al-Akbar, Salim, Al-Husin, Al-Hamid, Umar Al-Muhdhar, Hasan, Ahmad, Saleh, Ali, Syaikhan, dan Abdullah Al-Asghar.
Keturunan Syeikh Abubakar bin Salim diantaranya adalah Al-Hamid, Bin Jindan, Al-Muhdar dan Al-Haddar.
Bin Jindan
Nasab mereka bersambung kepada Ali bin Muhammad bin Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim. Kadang kala anak cucu Ali bin Muhammad disebut sebagai bin Jindan bin Syeikh Abubakar bin Salim.
Al-HamidMereka adalah keturunan dari Al-Hamid bin Syeikh Abubakar bin Salim.
Al-MuhdharMereka adalah keturunan Umar Al-Muhdhar bin Syeikh Abubakar bin Salim. Ayah beliau memberi nama Umar Al-Muhdhar karena ingin bertabarruk dengan Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Seggaf, juga dengan harapan agar anaknya dapat meneladani dan mewarisi ilmu yang dimiliki oleh Umar Al-Muhdhar, seorang arif yang amat ia kagumi.
Al Haddar
Mereka adalah keturunan Ahmad Al-Haddar bin Abdullah bin Ali bin Muhsin bin Husin bin Syeikh Abubakar bin Salim. Haddar berarti orang yang bersuara keras. Julukan ini diberikan karena beliau mempunyai kebiasaan meninggikan suara dalam berdakwah di jalan Allah. Dan ada pula yang menyebutkan bahwa sejak dalam kandungan ibunya ia telah mengeluarkan suara yang keras. Kalimat ini juga digunakan untuk menggambarkan orang yang sejak masa kanak-kanaknya telah mencapai puncak ketinggian ilmu. Orang awam sering mengibaratkan seorang yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasan dengan kalimat ‘fulan seperti telur ayam yang berkokok’.

1. (Diringkas dari Al-Mu’jam Al-Lathief, karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Cet. I. 1986/1046 H, Alam Ma’rifah, Jeddah.)
2. (Diringkas dari Syamsuz Zahirah, karya Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur, ‘Alam Ma’rifah, Jeddah, 1984/1404 H.)
Dari kalam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi
Sesungguhnya dalam kalam Habib Ali yang ditulis oleh Habib Umar bin Muhammad Mulakhela ini banyak sekali kisah yang berhubungan dengan Syeikh Abubakar bin Salim, tetapi dalam kesempatan ini hanya dikutip 4 kisah saja. Dalam kalam Habib Ali juga disebutkan bahwa diantara murid-murid Syeikh Abubakar bin Salim yang banyak itu terdapat 7 orang yang dipersiapkan dan dibina sendiri oleh Syeikh Abubakar, dan dari 7 orang itu terdapat 3 habaib yang tidak asing lagi bagi kita, yaitu: Habib Yusuf bin 'Abid Al-Hasni Al-Maghribi, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri, dan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi.
Kisah Pertama
Syeikh Abubakar bin Salim meninggal dalam pangkuan Yusuf bin 'Abid, salah seorang murid kesayangannya. Menjelang ajal gurunya, Yusuf bin 'Abid mengulang-ulang ayat: falammâ qodhô zaidun minhâ wathoron, dengan harapan bahwa gurunya akan menyambut ucapannya itu dengan ayat lanjutannya: zawwajnâkahâ, yang maksudnya, sang Syeikh bersedia menurunkan seluruh ilmunya kepada Habib Yusuf bin Abid. Namun Syeikh Abubakar berkata, "Wahai Yusuf, semua ilmu yang telah kuajarkan kepadamu penuh dengan keberkahan, adapun mengenai sirku, andaikata tak dapat kutemukan seseorang yang pantas untuk menerimanya dari kalangan anak cucuku, maka ilmu itu akan kutanam di padang pasir 'Inat." (hal. 74)
Kisah Kedua
Beberapa orang yang saleh berpendapat bahwa setiap anak Syeikh Abubakar bin Salim telah mencapai setengah dari kewalian berkat doa orang tuanya.Kewalian dapat dicapai dengan takholli (membersihkan diri dari segala dosa) dan tahalli (membekali diri dengan berbagai amal saleh). Anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim telah meraih takholli dan mereka tinggal melaksanakan tahalli. Karenanya, dengan tingkat tawajjuh yang paling rendah, mereka akan berhasil meraih cita-cita mereka. (hal. 534)Kisah Ketiga
Pada suatu saat Syeikh Abubakar bin Salim berniat belajar kepada Syeikh Ma'ruf yang tinggal di Syibam. Beliau terpaksa harus berhenti di pinggir kota Syibam, karena Syeikh Ma'ruf Ba Jammal belum berkenan menemuinya. Setiap kali dikatakan kepada Syeikh Ma'ruf, "Anak Salim bin Abdullah meminta izin untuk menemuimu." Jawabnya selalu, "Katakan kepadanya bahwa aku belum berkenan menerimanya." Meskipun ayah beliau adalah seorang yang dihormati karena kesalehannya, Syeikh Abubakar bin Salim tetap bersabar di bawah teriknya matahari dan dinginnya angin malam. Beliau menguatkan hati dan mengendalikan nafsunya demi memperoleh asrar. Baru setelah lewat 40 hari beliau menerima kabar bahwa Syeikh Ma'ruf bersedia menemuinya. Syeikh Ma'ruf hanya memerlukan beberapa saat saja untuk menurunkan ilmu kepada beliau. Sewaktu keluar dari kediaman Syeikh Ma'ruf, beliau mendapati sekumpulan kaum wanita yang mengelukan-elukan kedatangan beliau, "Selamat wahai Ibn Salim, selamat wahai Ibn Salim.". Mereka berbuat demikian dengan harapan mendapatkan sesuatu dari beliau. Beliau pun segera menyadari hal ini dan kemudian mendoakan agar mereka mendapatkan suami yang setia.
Menurut Habib Ali hingga saat ini kaum wanita Syibam memiliki suami yang setia. Ketika Habib Ali ditanya, "Apakah Syeikh Ma'ruf juga termasuk salah satu dari guru-guru Syeikh Abubakar bin Salim?" Beliau menjawab, "Ya, akan tetapi beliau kemudian mengungguli syeikhnya, dan kita ahlil bait, jika ber-tawajjuh untuk menuntut asrôr, akan berhasil dengan waktu lebih singkat. Yang menyebabkan kita tertinggal adalah karena kita menelantarkan diri kita, Barang siapa menelantarkan dirinya, ia akan hilang tersesat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan para salaf kita yang saleh dan mengembalikan barokah dan asrôr mereka kepada kita.

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "SYEIKH ABUBAKAR BIN SALIM"

Tinggalkan Pesan ^_^
Nama

E-mail *

Pesan *